Bangunan Bagi Sadap

Bangunan Bagi

Bangunan bagi dibuat apabila air irigasi dibagi dari saluran primer ke saluran sekunder. Bangunan bagi terdiri dari pintu-pintu yang dengan teliti mengukur dan mengatur air yang mengalir ke berbagai saluran.

Salah satu dari pintu bangunan bagi berfungsi sebagai pintu pengatur muka air, sedangkan pintu sadap lainnya mengatur debit. Biasanya pintu pengatur dipasang pada saluran terbesar, sedangkan alat-alat pengukur dan pengatur dipasang pada bangunan-bangunan sadap yang lebih kecil.

Dalam merencanakan bangunan pengatur, hendaknya diperhitungkan kemungkinan terjadinya keadaan-keadaan darurat seperti debit penuh sementara pintu-pintu tertutup. Bangunan sebaiknya dilindungi dari bahaya seperti ini dengan pelimpah samping di saluran hulu, atau kapasitas yang memadai diatas pintu, atau alat ukur tambahan dengan mercu setinggi debit rencana.

Bangunan Sadap

1. Bangunan sadap sekunder

Bangunan sadap sekunder akan memberikan air ke saluran sekunder dan akan melayani lebih dari satu petak tersier. Kapasitas bangunan-bangunan sadap ini lebih dari 0,25 m3/detik.

Pemilihan tipe bangunan pengukur debit pada bangunan sadap sekunder tergantung pada ukuran saluran sekunder yang akan diberi air serta besarnya kehilangan energi yang diijinkan.

Untuk kehilangan tinggi energi kecil, alat ukur Romijn dipakai hingga debit sebesar 2 m3/detik. Dalam hal ini dipaki dua atau tiga pintu Romijn yang dipasang bersebelahan. Untuk debit yang lebih besar, harus dipilih pintu sorong yang dilengkapi dengan alat ukur yangh terpisah yaitu alat ukur ambang lebar.

Bila tersedia kehilangan tinggi energi yang memadai, maka dapat dipakai alat ukur Crump de Gruyter. Bangunan ini dapat direncanakan dengan pintu tunggal atau banyak pintu dengan debit sampai sebesar 0,9 m3/detik.

2. Bangunan sadap tersier

Bangunan sadap tersier akan memberikan air pada petak-petak tersier. Kapasitas bangunan sadap ini adalah alat ukur Romijn, jika mulai air hulu diatur dengan bangunan pengatur dan jika kehilangan tinggi energi menjadi masalah.

Bila kehilangan tinggi energi tidak begitu menjadi masalah dan muka air banyak mngalami fluktuasi, maka dipilih alat ukur Crump de Gruyter. Harga debit Q maks / Q min untuk alat ukur ini lebih kecil daripada harga alat ukur debit Romijn.

Pada saluran irigasi yang harus tetap memberikan air selama debit sangat rendah, alat ukur Crump de Gruyter lebih cocok, karena elevasi pengambilannya lebih rendah daripada elevasi pengambilan pintu Romijn. Pemakaian beberapa tipe bangunan sadar tersier sekaligus di satu daerah irigasi tidak disarankan karena menyulitkan transportasi.

No comments.

Leave a Reply