«

»

Print this Post

Metode Pelaksanaan Laburan Aspal Dua Lapis (Burda)

PELAKSANAAN

A. Persiapan Lapangan

Sebelum penghamparan dilaksanakan, terlebih dahulu harus disiapkan antara lain :

  1. Tutup lubang, permukaan yang tidak rata harus diberi lapisan perata (levelling)
  2. Bersihkan permukaan dari bahan-bahan yang tidak dikehendaki misalnya debu dan bahan lainnya permukaan harus kering
  3. Ukur panjang dan lebar jalan yang akan diberi lapis pengikat aspal dengan alat aspal distributor yang mempunyai panjang batang penyemprot minimum 180 m
  4. Periksa sistem penyaluran air (drainase) harus berfungsi dengan baik
  5. Catat temperatur udara lapangan dengan mengambil temperatur lapangan rata-rata sehari sebelum penyemprotan dimulai
  6. Kalibrasi aspal distributor dilakukan terhadap bukaan nozel, tinggi rendahnya batang penyemprot aspal, lebar batang penyemprot aspal dan kecepatan aspal distributor
  7. Beri lapis resap ikat pada permukaan jalan yang belum beraspal sebanyak 0,6 – 1,5 L/m2 sesuai dengan kebutuhan

B. Pengangkutan

  1. Isi truk dengan agregat sesuai dengan keperluan di lapangan kemudian tutup dengan terpal
  2. Angkut agregat yang akan ditebar dengan menggunakan truk jungkit (dump truck) yang bersih apabila pekerjaan persiapan sudah selesai
  3. Angkut aspal ke lapangan dengan menggunakan aspal distributor

C. Percobaan Penghamparan Agregat

Lakukan percobaan penghamparan agregat seluas 150 m² dengan peralatan dan kecepatan tertentu di atas permukaan jalan (tanpa dilapisi aspal), untuk mengkalibrasi kecepatan maju atau mundurnya peralatan penebar agregat untuk memenuhi kebutuhan agregat per m² sesuai dengan ketentuan.

D. Penghamparan Lapis Pertama

Lakukan pekerjaan penghamparan yang meliputi penyiraman aspal dan penaburan agregat.

E. Penyiraman Aspal

  1. Panaskan aspal yang digunakan sesuai dengan jenis aspal dan jumlah pengencer, dengan tujuan untuk memperoleh suatu distribusi aspal yang seragam kecuali bila menggunakan aspal emulsi
  2. Pasang lembaran kertas penutup (kertas tebal, kertas semen) pada tempat-tempat penyiraman dimulai dan berakhir, yang diperlukan untuk mendapatkan batas permukaan yang rapi pada awal dan akhir
  3. Pasang tanda dengan benang atau kapur atau cat pada batas-batas camping pengaspalan sebagai petunjuk bagi operator
  4. Jalankan aspal distributor di atas kertas batas awal dan batang penyemprot dibuka
  5. Aspal distributor bergerak maju dengan kecepatan tetap sesuai dengan yang ditetapkan, sampai batas kertas akhir, lalu pipa batang penyemprot ditutup
  6. Aingkirkan lembaran kertas
  7. Perbaiki hasil penyemprotan aspal yang tidak merata dengan menggunakan penyemprot aspal (hand sprayer).

F. Penebaran Agregat

  1. Gerakkan penebar agregat penutup (chip spreader) maju atau mundur (sesuai tipe chip spreader) dengan kecepatan tetap sambil menebarkan agregat sehingga lapisan aspal akan tertutup agregat sebelum terlewati ban truk jungkit (dump truck) sampai persediaan chip hampir habis
  2. Lanjutkan penebaran agregat segera setelah penyemprotan aspal sehingga seluruh lapisan aspal tertutup dan pada bagian-bagian yang diperlukan penambahan agregat dapat dilakukan penaburan agreget tambahan dengan tangan (manual)
  3. Taburkan agregat pada jalur yang sudah disemprot aspal, sisi sambungan memanjang aspal selebar 20 cm harus dibiarkan tidak tertutup agregat sehingga pada penyemprotan aspal berikutnya (dari jalur sebelahnya) dapat diperoleh penyemprotan tumpang tindih.

G. Pemadatan dan Penyapuan

  1. Lakukan pemadatan dengan pemadat roda karet dengan kecepatan 5 km/jam sebanyak 4-6 lintasan sehingga agregat tertanam dengan baik.
  2. Gunakan sapu lidi untuk menebarkan kembali agregat sebelum pemadatan selesai, pada tempat-tempat yang kelebihan agregat (lebih dari tebal satu batu).
  3. Bersihkan dengan sapu permukaan jalan dari kelebihan agregat setelah pemadatan.

H. Penghamparan Lapis Kedua

  1. Lakukan penghamparan lapis kedua seperti penghamparan lapis pertama dengan jumlah aspal dan agregat sesuai dengan ketentuan
  2. Gunakan agregat dengan ukurun agregat lebih kecil dibandingkan dengan ukuran agregat lapis pertama dengan takaran penggunaan aspal sesuai perencanaan
  3. Padatkan agregat lapis kedua dengan menggunakan pemadat roda karet sebanyak 4-5 lintasan
  4. Bersihkan dengan sapu permukaan jalan dari kelebihan agregat setelah pemadatan selesai
  5. Pasang pemisah jalur dan rambu-rambu lulu lintas dan jalan dapat dibuka dengan kecepatan maksimum 20 km/jam
  6. Sesuaikan dengan jenis aspal pengikat yang digunakan, untuk pembukaan lalu lintas kecepatan normal, yaitu aspal cair MC = 2 x 24 jam; aspal cair RC = 6 jam; aspal emulsi = 4 jam; aspal keras = 4 jam.

PENGAWASAN

A. Bahan

  1. Agregat yang digunakan harus diperiksa, gradasi, kepipihan, kelekatan aspal,abrasi dan kebersihan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
  2. Jumlah pemakaian aspal per m² harus selalu diperiksa dengan tongkat celup (dipstick) atau dengan meletakkan kertas yang berat, dan ukurannya sudah diketahui, di atas permukaan yang akan disiram
  3. Penambahan atau pengurangan jumlah aspal perlu dilakukan sesuai dengan kondisi permukaan
  4. Jumlah penggunaan agregat harus diperiksa dengan meletakkan kertas yang berat dan ukurannya telah diketahui di atas permukaan yang akan ditutup agregat
  5. Kerataan hamparan agregat harus mendapat perhatian sebelum pemadatan dilakukan.

B. Alat Manual

1. Ketel aspal

Ketel aspal untuk menyimpan dan memanaskan aspal harus mempunyai kapasitas yang cukup, paling sedikit untuk satu hari pekerjaan, ketel harus dilengkapi dengan alat pembakar hembus, termometer pengukur suhu dan alat yang dapat mengukur secara teliti setiap volume aspal di dalamnya dan harus dapat mengalirkan semua aspal yang ditampungnya.

2. Tongkat besi untuk kalibrasi aspal distributor dengan ukuran bagian dalam, panjang 240 cm, lebar 25 cm, dan tinggi 120 cm harus dapat menampung aspal panas yang disemprotkan aspal distributor dalam waktu dan tekanan pompa tertentu, dan harus dilengkapi dengan kran untuk mengalirkan semua aspal yang ditampungnya.

3. Tongkat berskala

Tongkat berskala harus lurus, kaku dan tahan panas untuk mengukur volume aspal dalam kotak besi, dengan cara membaca angka pada tongkat sampai batas permukaan setelah dicelupkan kedalam aspal secara vertikal sampai menyentuh dasar kotak besi berisi aspal, pembacaan dilakukan pada setiap sudut dan tengah kotak, volume aspal dalam kotak adalah rata-rata pembacaan.

4. Peralatan bantu

Peralatan bantu yang digunakan berupa sikat ijuk, roda dorong, sapu lidi, kertas tebal / kertas semen, kapur tulis, cat, kuwas, dan rol meter harus dapat berfungsi dengan baik.

C. Alat Mesin

1. Aspal distributor

a. Aspal distributor sebelum digunakan harus dikalibrasi agar penyemprotan aspal pada permukaan jalan merata sesuai penggunaan takaran yang direncanakan.

b. Takaran penggunaan harus dalam batas-batas toleransi ± 5%, maka alat-alat pengukur harus dikalibrasi antara lain :

  • Kecepatan kendaraan
  • Tekanan pompa
  • Termometer suhu
  • Tongkat berskala pengukuran volume

c. Batang penyemprot harus dilengkapi dengan pengatur tinggi dan lebar permukaan yang akan disemprot.

d. Sudut nozel harus disetel secara cepat supaya bentuk semprotan sama, sehingga disribusi penggunaan aspal merata.

e. Tachometer harus kelihatan dengn jelas oleh operetor aspal distributor.

f. Timbangan truck.

2. Timbangan truck

Biasanya dipasang di lokasi penyimpanan bahan, harus dari jenis batang standar (standard beam type), mempunyai kapasitas yang cukup untuk menimbang semua jenis truk digunakan dalam pengangkutan agregat dan aspal distributor, dan mampu menimbang secara teliti pada pembebanan antara10 kg beban total.

3. Penyemprot aspal manual

Penyemprotan aspal manual digunakan hanya untuk menyemprotkan aspal pada bagian permukaan jalan yang tidak bisa dengan aspal distributor atau pada bagian yang tidak rata. Sebelum digunakan harus dicoba dengan ketinggian dan kecepatan bergerak untuk dapat diperoleh takaran pemakaian aspal sesuai dengan aspal yang disyaratkan.

4. Penebar agregat penutup

a. Alat penebar agregat harus dapat menebar agregat secara merata sesuai kebutuhan, bergerak maju atau mundur (sesuai alat penebar agregat) dengan kecepatan tetap sambil menebarkan agregat sehingga lapisan aspal akan tertutup agregat sebelum terlewati ban truk jungkit sampai persiapan habis.

b. Penebar agregat harus dilengkapi dengan pengatur bukaan lubang, lebar penebaran agregat untuk mendapatkan volume agregat sesuai dengan kebutuhan.

c. Penghamparan agregat harus segera dilaksanakan langsung setelah penyemprotan aspal pada saat itu juga, sehingga seluruh lapisan aspal tertutup, pada bagian-bagian yang perlu penambahan agregat dapat dilakukan dengan menaburkan agregat cara manual.

5. Pemadat

Pemadatan harus menggunakan pemadat roda karet dengan lebar tidak kurang dari 1,5 meter dengan kecepatan 5 km/jam sebanyak 4-6 lintasan, segera setelah penebar agregat penutup ditebarkan; pemadat roda besi dapat digunakan bila agregat penutup cukup kuat, dan tidak terjadi pecah.

KONTROL KUALITAS PEKERJAAN

A. Biaya

1. Pengukuran Untuk Pembayaran

1. Aspal harus diukur untuk pembayaran dalam satuan liter sebagai volume nominal yang telah terpakai dan telah diterima pada setiap lintasan penyemprotan atau penyemprotan secara manual, dikoreksi terhadap pemuaian akibat temperatur dengan volume yang setara pada suhu 15 ºC.

2. Volume nominal harus didefinisikan sebagai luas permukaan yang telah disemprot dengan aspal. Untuk pembayaran, takaran pemakaian nominal aspal untuk setiap lintasan penyemprotan atau penyemprotan secara manual, harus diambil yang lebih kecil dari ketentuan di bawah ini:

  • Takaran pemakaian yang telah diperintahkan Direksi Pekerjaan, ditambah toleransi yang diperkenankan Spesifikasi ini.
  • Takaran rata-rata pemakaian yang telah disemprot dan diukur sesuai dengan Spesifikasi ini.
  • Pengukuran Agregat BURDA yang diukur untuk pembayaran harus dalam satuan meter persegi permukaan jalan yang telah diberi BURDA dan telah selesai dan diterima sesuai Spesifikasi ini dan Gambar Rencana.
  • Pengukuran Perbaikan Pekerjaan.

Bila perbaikan pekerjaan pelaburan yang tidak memenuhi ketentuan telah dilaksanakan sesuai perintah Direksi Pekerjaan maka kuantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah merupakan pekerjaan yang seharusnya dibayar jika pekerjaan yang semula diterima. Tidak ada pembayaran tambahan untuk suatu pekerjaan tambahan atau kuantitas tambahan atau pengujian ulang karena pekerjaan perbaikan tersebut.

2. Dasar Pembayaran

Kuantitas yang sebagaimana ditentukan di atas harus dibayar menurut Harga Kontrak per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang telah tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana harga dan pembayaran itu harus merupakan kompensasi penuh untuk pengadaan dan penghamparan seluruh bahan, termasuk seluruh pekerja, peralatan, perlengkapan, dan biaya tidak terduga yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan seperti diuraikan dalam Spesifikasi ini.

B. Mutu

Pengendalian mutu yang harus dilaksanakan sebagai berikut :

  1. Agregat yang digunakan harus diperiksa, gradasi, kepipihan, kelekatan aspal,abrasi dan kebersihan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
  2. Untuk jalan baru, lapis resap ikat harus diperiksa jumlah dan kerataannya
  3. Untuk jalan lama lapis ikat, sudah diperrhitungkan pada penyemprotan aspal pertama
  4. Temperatur aspal pada aspal distributor harus selalu dijaga, supaya sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan
  5. Jumlah pemakaian aspal per m² harus selalu diperiksa dengan tongkat celup (dipstick) atau dengan meletakkan kertas yang berat, dan ukurannya sudah diketahui, di atas permukaan yang akan disiram
  6. Penambahan atau pengurangan jumlah aspal perlu dilakukan sesuai dengan kondisi permukaan
  7. Jumlah penggunaan agregat harus diperiksa dengan meletakkan kertas yang berat dan ukurannya telah diketahui di atas permukaan yang akan ditutup agregat
  8. Kerataan hamparan agregat harus mendapat perhatian sebelum pemadatan dilakukan
  9. Periksa pada sambungan penyemprotan aspal arah memanjang selebar 20 cm tidak boleh dicampur agregat penutup, sehingga penyemprotan tumpang tindih dilakukan dari jalur sebelahnya.            

PELAKSANA PEKERJAAN

Pelaksana pekerjaan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Keselamatan para pelaksana dan pengawas serta masyarakat yang sedang berada dalam daerah pekerjaan
  2. Masalah lingkungan
  3. Kelancaran arus lalu lintas pada daerah pekerjaan
  4. Pekerjaan dilaksanakan pada cuaca baik
  5. Penyediaan sarana penerangan yang cukup bila pekerjaan dilaksanakan pada malam hari
  6. Efektifitas pengoperasian alat agar dapat bekerja secara terus menerus pada kecepatan normal

Permanent link to this article: http://www.ilmutekniksipil.com/perkerasan-jalan-raya/metode-pelaksanaan-laburan-aspal-dua-lapis-burda

Forum Teknik Sipil dan Arsitektur

1 comment

  1. roman braek

    ketebalan jln yg di lalui buz besar/ tronton. itu kra2 memerlukan ktbalan brpa mili…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

4,525 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>