Contoh Hasil Pengujian1

Pemeriksaan Modulus Halus Kerikil

Pada postingan sebelumnya tentang Pemeriksaan Modulus Halus Pasir sudah dijelaskan bagaimana melakukan pemeriksaan tentang modulus halus pasir untuk mendapatkan gradasi pasir. Kali ini akan dijelaskan bagaimana melakukan pemeriksaan modulus halus kerikil.

Pemeriksaan modulus halus kerikil adalah salah satu cara untuk mengetahui nilai kehalusan atau kekasaran suatu agregat. Kehalusan atau kekasaran agregat dapat mempengaruhi kelecakan dari mortar beton, apabila agregat halus yang terdapat dalam mortar terlalu banyak akan menyebabkan lapisan tipis dari agregat halus dan semen akan naik ke atas.

Pemeriksaan Kandungan Lumpur Dalam Kerikil Cara Ayakan No 200

Pada postingan sebelumnya tentang Pemeriksaan Kandungan Lumpur Dalam Pasir Cara Volume Endapan Ekivalen, sudah dibahas bagaimana cara melakukan pengujian terhadap kandungan lumpur dalam pasir dengan cara volume endapan ekivalen. Seperti yang kita ketahui bahwa kandungan lumpur pada agregat kasar (kerikil) dan agregat halus (pasir) yang melebihi batas akan mempengaruhi kualitas campuran beton. Pada postingan kali ini akan dibahas bagaimana cara melakukan pemeriksaan kandungan lumpur pada kerikil.

Di dalam kerikil juga masih terdapat kandungan-kandungan mineral yang lain seperti tanah dan silt. Pasir yang digunakan untuk bahan bangunan harus memenuhi syarat yang telah ditentukan di dalam (PUBI). Kerikil dapat digunakan sebagai bahan bangunan, jika kandungan lumpur di dalamnya tidak lebih dari 5%. Dengan cara endapan ekivalen kadar lumpur dalam kerikil yang dinyatakan dalam (%) dapat diketahui secara tepat.

Contoh Hasil Pengujian

Pemeriksaan Modulus Halus Pasir

Pemeriksaan modulus halus pasir adalah cara untuk mengetahui nilai kehalusan atau kekasaran suatu agregat. Kehalusan atau kekasaran agregat dapat mempengaruhi kelecakan dari mortar beton, apabila agregat halus yang terdapat dalam mortar terlalu banyak akan menyebabkan lapisan tipis dari agregat halus dan semen akan naik ke atas.

Benda uji yang digunakan adalah pasir dengan berat minimum 500 gr. Sedangkan alat yang digunakan adalah sebagai berikut :

  1. Satu set ayakan  4.75 mm,2.36 mm, 1.18 mm, 0.6 mm, 0.3 mm, 0.15 mm dan sisa.
  2. Alat getar ayakan
  3. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram
  4. Kuas pembersih ayakan
  5. Cawan

Pemeriksaan Zat Organis Dalam Pasir

Pemeriksaan zat organis dalam pasir adalah cara untuk mengetahui adanya zat organis yang melekat pada pasir. Zat organis yang melekat pada pasir akan mempengaruhi mutu mortar atau beton yang dibuat. Warna gelap yang terjadi pada hasil pemeriksaan ini tidak dapat digunakan sebagai tolok ukur apakah pasir tersebut dapat digunakan dalam adukan atau tidak, karena warna gelap tersebut bisa berasal dari arang atau mangan yang terkandung dalam pasir tersebut.

Pada prinsipnya pemeriksaan ini dapat digunakan untuk menentukan apakah perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut atau tidak, misalnya untuk pemeriksaan keawetan dan kekuatan beton yang dibuat dengan menggunakan pasir ini.

Pemeriksaan Kandungan Lumpur Dalam Pasir Cara Volume Endapan Ekivalen

Pasir adalah endapan butiran-butiran mineral yang lolos ayakan 4.8 mm dan tertinggal di atas ayakan 0.075 mm. Di dalam pasir juga masih terdapat kandungan-kandungan mineral yang lain seperti tanah dan silt. Pasir yang digunakan untuk bahan bangunan harus memenuhi syarat yang telah ditentukan di dalam PUBI. Pasir yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan, jika kandungan lumpur di dalamnya tidak lebih dari 5%. Dengan cara ekivalen endapan lumpur dalam pasir yang dinyatakan dalam (%) dapat diketahui secara tepat.

Tujuan dilakukan pemeriksaan pasir dengan cara volume endapan ekivalen adalah untuk mengetahui besarnya kadar lumpur dalam pasir tersebut. Jika kadar lumpur dalam pasir melebihi batas 5%, maka pasir tersebut tidak dapat dipakai sebagai agregat halus dalam campuran beton.

Pengujian Berat Jenis dan Kadar Kayu

Pengujian berat jenis dan kadar air kayu merupakan hal yang penting untuk mengetahui kuat kelas kayu dan kondisi kayu apakah sudah kering udara atau belum. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui berat jenis dan kadar air kayu yang akan digunakan sebagai bahan bangunan dalam sebuah proyek.

Benda uji yang diperlukan berupa balok kayu dengan ukuran tampang  68,8mm x 38,8 mm x 22,2 mm. Sedangkan alat yang digunakan dalam pengujian antara lain :

Konstruksi Beton Untuk Bangunan

Konstruksi beton merupakan konstruksi dengan bahan yang terbuat dari beton yang terdiri dari semen dan bahan lain sepertifly ash dan semen terak, agregat (agregat kasar umumnya terbuat dari batu kerikil atau dihancurkan seperti kapur, atau batu granit, ditambah agregat halus seperti pasir), air, dan kimia pencampuran.

Pentingnya Mengenal Kayu Sebagai Material Bangunan

Kayu merupakan bahan alami dengan tampilan yang indah. Mengenal karakteristik kayu berarti perlu memahami proses pertumbuhannya, mulai dari sebatang pohon hingga menjadi produk yang bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. Kajian karakteristik dan tampilan alami kayu diharapkan bisa memberi pemikiran yang lain tentang perlakuan terhadap kayu serta penggunaannya sebagai material bangunan.

Jenis Penutup Atap

Agar sebuah bangunan yang dibangun terlindungi dari hujan dan sinar matahari maka diperlukan penutup atap, berikut ini adalah janis-jenis penutup atap :

KUAT TEKAN BETON

Pengujian Kuat Tekan Beton Berdasarkan SNI

Metode ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengujian ini untuk menentukan kuat tekan (compressive strength) beton dengan benda uji berbentuk silinder yang dibuat dan dimatangkan (curring) di laboratorium maupun di lapangan. Kuat tekan beban beton adalah besarnya beban per satuan luas, yang menyebabkan benda uji beton hancur bila dibebani dengan gaya tekan tertentu, yang dihasilkan oleh mesin tekan.