Laboratory Stone Crusher

Laboratory Stone Crusher

Laboratory stone crusher adalah pengujian untuk memecah agregat untuk mendapatkan ukuran material yang diinginkan. Benda uji yang harus disiapkan adalah agregat. Sedangkan alat yang dibutuhkan adalah

  1. Stone Crusher
  2. Ember
Laboratory Stone Crusher
Laboratory Stone Crusher

Teknologi Perkerasan Jalan Ramah Lingkungan 2

Teknologi Perkerasan Jalan Ramah Lingkungan

Makin tingginya tingkat populasi di Indonesia, maka makin bertambah juga jumlah alat transportasi yang digunakan. Peningkatan jumlah transportasi ini harus didukung dengan penambahan, pemeliharaan dan peningkatan kualitas jalan-jalan pendukung transportasi.

Penambahan, pemeliharaan dan peningkatan kualitas jalan ini tidak ditunjang dengan sumber daya bahan jalan itu sendiri, yaitu, semakin sedikitnya jumlah dan menurunnya kualitas aspal yang diproduksi karena cadangan sumber daya minyak bumi yang terbatas dan semakin sedikit.

Indeks Kepipihan Dan Kelonjongan Agregat

Indeks Kepipihan Dan Kelonjongan Agregat

Pada batuan alam maupun hasil crushing plant terdapat fraksi-fraksi agregat yang memiliki berbagai macam bentuk. British Standard Institution (BSI-1975) membagi bentuk-bentuk agregat dalam 6 (enam) kategori, yaitu :

  1. Bulat (rounded)
  2. Tidak beraturan (irregular)
  3. Bersudut (angular)
  4. Pipih (flaky)
  5. Lonjong (elongated)
Titik Lembek Aspal dan Ter

Titik Lembek Aspal dan Ter

Aspal merupakan material termoplastik yang secara bertahap dapat mencair sesuai dengan pertambahan suhu, hal sebaliknya juga berlaku jika terjadi pengurangan suhu. Namun demikian, respon aspal terhadap perubahan suhu sangat bergantung pada komposisi unsur-unsur pembentuk aspal itu sendiri. Pelembekan (softening) bahan-bahan aspal dan ter tidak terjadi dengan sekejap pada suhu tertentu, tapi lebih merupakan perubahan gradual seiring pertambahan suhu. Titik lembek juga menjadi suatu batasan dalam penggolongan aspal dan ter. Titik lembek merupakan suatu hal yang harus diperhatikan dalam membangun kontruksi jalan. Titik lembek seharusnya lebih tinggi daripada suhu permukaaan jalan.

Pengujian Penetrasi Bahan Bitumen

Pengujian penetrasi bahan bitumen bertujuan untuk mengetahui tingkat kekerasan aspal yang dinyatakan dalam masuknya jarum dengan beban tertentu pada suatu selang waktu tertentu dalam suhu kamar. Tingkat kekerasan ini disebut sebagai angka penetrasi dan dijadikan acuan untuk klasifikasi aspal.

Bahan bitumen adalah material termoplastik yang secara bertahap mencair, sesuai dengan pertambahan suhu dan berlaku sebaliknya dengan pengurangan suhu. Meskipun demikian, perilaku dari material bahan bitumen berbeda-beda tergantung dari komposisi unsur-unsur penyusunnya.

Langkah langkah pengujian

Pengujian Daktilitas Bahan Bitumen

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kekenyalan aspal. Kekenyalan aspal dapat dinyatakan dengan panjang pemuluran aspal yang dapat tercapai hingga sebelum putus. Nilai daktilitas tidak dapat  menyatakan kekuatan tarik aspal.

Sifat reologis daktilitas digunakan untuk mengetahui ketahanan aspal terhadap retak dalam penggunaanya sebagai lapisan perkerasan. Aspal yang memiliki daktilitas yang rendah akan mengalami retak-retak dalam penggunaannya karena lapisan perkerasan mengalami perubahan suhu agak tinggi. Oleh sebab itu aspal perlu memiliki daktilitas yang cukup tinggi.

Metode Pelaksanaan Laburan Aspal Dua Lapis (Burda)

PELAKSANAAN

A. Persiapan Lapangan

Sebelum penghamparan dilaksanakan, terlebih dahulu harus disiapkan antara lain :

  1. Tutup lubang, permukaan yang tidak rata harus diberi lapisan perata (levelling)
  2. Bersihkan permukaan dari bahan-bahan yang tidak dikehendaki misalnya debu dan bahan lainnya permukaan harus kering
  3. Ukur panjang dan lebar jalan yang akan diberi lapis pengikat aspal dengan alat aspal distributor yang mempunyai panjang batang penyemprot minimum 180 m
  4. Periksa sistem penyaluran air (drainase) harus berfungsi dengan baik
  5. Catat temperatur udara lapangan dengan mengambil temperatur lapangan rata-rata sehari sebelum penyemprotan dimulai
  6. Kalibrasi aspal distributor dilakukan terhadap bukaan nozel, tinggi rendahnya batang penyemprot aspal, lebar batang penyemprot aspal dan kecepatan aspal distributor
  7. Beri lapis resap ikat pada permukaan jalan yang belum beraspal sebanyak 0,6 – 1,5 L/m2 sesuai dengan kebutuhan
Tabel Suhu Penyemprotan

Laburan Aspal Dua Lapis (Burda)

Laburan aspal dua lapis adalah lapisan pada permukaan jalan yang terdiri dari lapisan aspal ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan dengan tebal maksimum 35 mm.

Burda berfungsi untuk :

  1. Membuat permukaan tidak berdebu
  2. Mencegah masuknya air dari permukaan perkerasan
  3. Memperbaiki tekstur permukaan perkerasan
Kadar Aspal Optimum

Perencanaan Campuran Untuk Perkerasan Jalan

Lapisan aspal yang baik harus memenuhi 4 syarat yaitu stabilitas, durabilitas, fleksibilitas dan tahanan geser. Dengan demikian harus direncanakan campuran yang meliputi gradasi dan kadar aspal sehingga dapat dihasilkan lapis perkerasan yang memenuhi 4 persyaratan tersebut yaitu :

Karakteristik Campuran Untuk Perkerasan Jalan

Beberapa karakteristik campuran untuk perkerasan jalan adalah sebagai berikut :

1. Stabilitas

Stabilitas merupakan kemampuan lapisan perkerasan menerima beban lalu lintas tanpa terjadi perubahan bentuk tetap seperti gelombang, alur ataupun bleeding. Kemampuan tersebut terjadi sebagai hasil geseran antar butir, penguncian antar partikel dan daya ikat yang baik dari aspal.

Kebutuhan akan stabilitas setingkat dengan jumlah lalu lintas dan beban kendaraan yang memakai jalan tersebut. Namun, stabilitas yang terlalu tinggi menyebabkan lapisan menjadi kaku dan cepat retak disamping itu karena volume antar agregat kurang, mengakibatkan kebutuhan aspal mudah lepas sehingga durabilitas menjadi rendah.

Stabilitas yang tinggi dapat diperoleh  dengan penggunaan :