Pengujian Daktilitas Bahan Bitumen

Posted on

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kekenyalan aspal. Kekenyalan aspal dapat dinyatakan dengan panjang pemuluran aspal yang dapat tercapai hingga sebelum putus. Nilai daktilitas tidak dapat  menyatakan kekuatan tarik aspal.

Sifat reologis daktilitas digunakan untuk mengetahui ketahanan aspal terhadap retak dalam penggunaanya sebagai lapisan perkerasan. Aspal yang memiliki daktilitas yang rendah akan mengalami retak-retak dalam penggunaannya karena lapisan perkerasan mengalami perubahan suhu agak tinggi. Oleh sebab itu aspal perlu memiliki daktilitas yang cukup tinggi.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengukur jarak terpanjang yang dapat terbentuk dari bahan bitumen pada 2 cetakan kuningan, karena penarikan dengan mesin uji, sebelum bahan bitumen tersebut menjadi putus. Pemeriksaan ini dilakukan pada suhu 25 ± 0,5 °C dan dengan kecepatan tarik mesin 0 mm per menit (dengan toleransi ± 5%).

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui salah satu sifat mekanik bahan bitumen yaitu kekenyalan yang diwujudkan dalam bentuk kemampuannya untuk ditarik yang memenuhi syarat jarak tertentu (dalam pemeriksaan ini adalah 100 cm), maka dianggap bahan ini mempunyai sifat daktilitas yang tinggi.

Mesin uji biasanya mempunyai batas alat ukur hingga 100 cm. Hal yang sering terjadi dalam pemeriksaan daktilitas adalah bahwa jarak penarikan sampel umumnya selalu di atas 100 cm yang menunjukkan bahwa sampel ini mempunyai daktilitas tinggi. Permasalahan yang timbul akibat keterbatasan mesin uji dalam mengukur jarak putus sampel, kita tidak mengetahui seberapa besar daktilitas yang dimiliki benda uji. Oleh karena itu, masih diperlukan jenis pemeriksaan lain yang dapat mengukur daktilitas maksimum bahan bitumen yang melewati jarak 100 cm.

Peralatan dan bahan yang dibutuhkan dalam pengujian ini adalah:

  1. Cetakan kuningan. Cetakan ini terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian yang disebut clip dengan sebuah lubang pada bagian belakang dan bagian samping cetakan yang berfungsi sebagai pengunci clip sebelum cetakan ini diuji. Pada saat pengujian, bagian samping harus dilepas.
  2. Bak perendam, isi 10 liter yang dapat mempertahankan suhu pemeriksaan dengan toleransi yangn tidak lebih dari 0,5°C dari suhu pemeriksaan. Kedalaman air pada bak ini tidak boleh kurang dari 100 mm di bawah permukaan air. bak tersebut diperlengkapi dengan pelat dasar berlubang yang diletakkan 50 mm dari dasar bak perendam untuk meletakkan benda uji. Air dalam bak perendam harus bebas dari oli dan kotoran lain serta bebas dari bahan organik lain yang mungkin tumbuh di dalam bak.
  3. Termometer.
  4. Mesin uji yang dapat menjaga sampel tetap terendam, tidak menimbulkan getaran selama pemeriksaan dan dapat menarik benda uji dengan kecepatan tetap.
  5. Alat pemanas, untuk mencairkan bitumen keras.
  6. Metil alkohol teknik dan sodium klorida.

Acuan pengujian yang umum digunakan adalah dari SK SNI M 18-1990F, yang mengadopsi dari AASHTO T 51-89 dan ASTM D 113-79.

Persiapan benda uji :

  1. Susun bagian-bagian cetakan kuningan.
  2. Lapisi atas dan bawah cetakan serta permukaan pelat alas cetakan dengan bahan campuran dextrin dan gliserin atau amalgam.
  3. Pasang cetakan daktilitas diatas pelat dasar.
  4. Panaskan contoh bitumen kira-kira 100 gram sehingga cair dan dapat dituang. Untuk menghidarkan pemanasan setempat, lakukan dengan hati-hati. Pemanasan dilakukan sampai suhu antara 80 sampai 100 °C diatas titik lembek.
  5. Tuangkan contoh bitumen dengan hati-hati ke dalam cetakan daktilitas dari ujung ke ujung hingga penuh berlebihan.
  6. Dinginkan cetakan pada suhu ruang 30 sampai 40 menit lalu pindahkan seluruhnya ke dalam bak perendam yang telah disiapkan pada suhu pemeriksaan (sesuai dengan spesifikasi) selama 30 menit.
  7. Ratakan contoh yang berlebihan dengan pisau atau spatula yang panas sehingga cetakan terisi penuh dan rata.

Langkah-langkah pengujian :

  1. Sampel didiamkan pada suhu 25 °C dalam bak perendam selama 85 sampai 95 menit, kemudian lepaskan cetakan sampel dari alasnya dan lepaskan bagian samping dari cetakan.
  2. Pasang cetakan daktilitas yang telah terisi sampel pada alat mesin uji dan jalankan mesin uji sehingga akan menarik sampel secara teratur dengan kecepatan 5 cm/menit sampai sampel putus. Perbedaan kecepatan ± 5% masih diijinkan.
  3. Bacalah jarak antara pemegang cetakan pada saat sampel putus (dalam cm). Selama percobaan berlangsung sampel harus terendam sekurang-kurangnya 2,5 cm di bawah permukaan air dan suhu harus dipertahankan tetap (25 ± 0,5 °C).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian adalah apabila pada saat pengujian, sampel menyentuh dasar mesin uji atau terapung pada permukaan air, maka pengujian dianggap gagal dan tidak normal. Untuk menghindari hal semacam itu maka berat jenis air harus disesuaikan dengan berat jenis sampel dengan menambahkan metil alkohol atau sodium klorida. Apabila pemeriksaan normal tidak berhasil setelah dilakukan 3 kali, maka dilaporkan bahwa pengujian daktilitas bitumen tersebut gagal.

Langkah-langkah pengujian
Langkah-langkah pengujian

Semoga bermanfaat 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *