Teknologi Perkerasan Jalan Ramah Lingkungan

Posted on

Makin tingginya tingkat populasi di Indonesia, maka makin bertambah juga jumlah alat transportasi yang digunakan. Peningkatan jumlah transportasi ini harus didukung dengan penambahan, pemeliharaan dan peningkatan kualitas jalan-jalan pendukung transportasi.

Link Banner

Penambahan, pemeliharaan dan peningkatan kualitas jalan ini tidak ditunjang dengan sumber daya bahan jalan itu sendiri, yaitu, semakin sedikitnya jumlah dan menurunnya kualitas aspal yang diproduksi karena cadangan sumber daya minyak bumi yang terbatas dan semakin sedikit.

Teknologi-teknologi baru terus dikembangkan untuk mengganti bahan aspal dengan bahan lain ataupun mengefisiensikan penggunaan aspal minyak dengan bahan lain. Namun hal tersebut masih dalam rancangan dan sampai saat ini hasilnya masih dalam kondisi pengamatan penelitian.

Satu teknologi yang bisa dilakukan mengefisiensikan pada perkerasan jalan serta ramah lingkungan adalah metode pendaurulangan jalan, metode teknologi ini dapat mengefisiensikan bahan aspal baru dan agregatnya. Yang paling menarik adalah teknologi ini ramah lingkungan karena selain mengefisiensikan bahan aspal dan agregat teknologi ini mengefisiensikan bahan bakar pada prosesnya. Efisiensi bahan bakar diperoleh dari sedikitnya pemanasan pada proses pembuatan campuran aspalnya, karena proses pemanasan ini dilakukan hanya pada pembuatan foam bitumen pada proses recyclingnya saja.

Teknologi Perkerasan Jalan Ramah Lingkungan 1

Teknologi Perkerasan Jalan Ramah Lingkungan 2

Menurut seorang peneliti di bidang bahan dan perkerasan jalan dari Puslitbang Jalan dan Jembatan (PUSJATAN), Prof. Furqon Affandi, teknologi jalan beton di Indonesia relatif sangat terbatas terbatas. Usia penelitian dan pengembangan teknologi ini hanya 24 (dua puluh empat) tahun. Penguasaan teknologi ini pun masih tertinggal jauh dibandingkan dengan di luar negeri dari segi metoda perencanaaan maupun teknologi pelaksanaan dan pemeliharaannya. Terkait dengan penguasaan teknologi concrete pavement ini, PUSJATAN telah melakukan penelitian dan pengembangan diantaranya :

  1. Pengembangan pedoman perkerasan beton semen (rigid) (1985)
  2. Pengembangan pedoman perencanaan perkerasan jalan beton semen (2003)
  3. Pengembangan pedoman perkerasan beton semen untuk jalan dengan lalu lintas rendah dan menengah (2003)
  4. Pengembangan pedoman pelaksanaan perkerasan jalan beton (2004)
  5. Pengembangan pedoman pemeliharaan jalan beton (2006)
  6. Penelitian bahan joint sealent untuk sambungan dan retak pada perkerasan beton (2008)

Pedoman perencanaan perkerasan beton semen yang dihasilkan tahun 1985, merupakan pedoman perencanaan yang pertama kali dibuat oleh Puslitbang jalan, yang merupakan adopsi dari metoda perencanaan perkerasan beton NAASRA yang telah berusia puluhan tahun ke belakang. Metoda ini didasarkan pada hasil percobaan yang dilakukan oleh NAASRA, sehingga belum bersifat analitis, yang mencakup jenis perkerasan beton bersambung tanpa tulangan, beton bersambung dengan dengan tulangan serta beton menerus dengan tulangan.

Pedoman perencanaan perkerasan jalan beton yang dikeluarkan tahun 2003 mengacu pula kepada perencanaan perkerasan beton dari NAASRA (1992) yang juga mencakup perkerasan beton bersambung tanpa tulangan, perkerasan beton bersambung dengan tulangan dan perkerasan beton menerus dengan tulangan. Pada perencanaan ini, sudah diperhitungkan kemampuan faktor kelelahan (fatigue) bahan yang digunakan akibat besar dan jumlah pengulangan beban perkiraan jalan tersebut selama umur rencananya. Hal lain yang diperhitungkan pada metoda perencanaan ini, ialah faktor erosi tanah dasar yang akan mempengaruhi keperluan tebal perkerasan jalan tersebut. Tebal pelat beton yang dipilih ialah tebal pelat beton yang memenuhi keamanan kedua faktor tersebut, yaitu ketebalan yang memberikan faktor kelelahan (fatigue) atau faktor erosi yang paling mendekati dan masih dibawah nilai 100%. Selain itu, metoda perencanaan perkerasan beton semen tahun 2003 ini juga memperhitungkan keberadaan bahu jalan terhadap tebal perkerasan yang diperlukan. Metoda perencanaan ini memanfaatkan dowel pada sambungan antar pelat yang berfungsi sebagai penyalur beban ( load transfer) dari pelat satu ke pelat yang sebelahnya.

Dengan perkembangan pembangunan jalan beton yang terus meningkat, maka dibuat Pedoman perkerasan beton semen untuk jalan dengan lalu lintas rendah dan menengah pada tahun 2003. Metoda ini, didasarkan pada kelas beban lalu lintas serta CBR tanah dasar, dimana perkerasan tersebut akan ditempatkan. Pelaksanaam perkerasan ini bersifat sederhana dengan menggunakan alat semi-manual maupun manual. Dari semua metoda perencanaan yang disebutkan diatas, kekesatan permukaan jalan dilakukan dengan membuat alur (grooving) yang dilakukan pada saat beton masih belum terlalu keras. Dari aspek metoda pelaksanaan, pembahasan pelaksanaan jalan beton dimulai dari persiapan tanah dasar, penghamparan beton, serta perawatannya, baik yang menggunakan acuan tetap atau menggunakan acuan gelincir, yang meliputi perkerasan beton bersambung tanpa tulangan, perkerasan beton bersambung dengan tulangan serta perkerasan beton menerus dengan tulangan.

Teknologi jalan beton di luar negeri mengalami perkembangan yang jauh lebihpesat, baik dari segi perencanaan konstruksi perkerasan, bahan yang digunakan, tipe perkerasan beton dan metoda pelaksanaanya. Salah satu metoda yang dikembangkan ialah metoda perencanaan yang bersifat mekanistik, untuk meningkatkan metoda yang selama ini ada, yang didasarkan pada pengembangan dari percobaan – percobaan yang sifat parameter perencanaanya sangat terbatas. Dengan metoda ini, perencanan lebih didasarkan kepada sifat material yang bisa diukur secara teknis, sehingga perencanaan bisa lebih sesuai dengan keadaan dimana perkerasan tersebut dilaksanakan.

Adapun tipe perkerasan yang telah dan tengah dikembangkan lagi, ialah perkerasan beton pracetak dan pracetak – prategang, baik untuk perencanaan jalan baru maupun untuk pemeliharaan, misalnya penggantian pelat beton tertentu yang mengalami kerusakan. Perencanaan jalan beton dengan metoda pracetak – prategang ini, sebagaimana halnya pada konstruksi yang menggunakan sistim prategang, dimaksudkan untuk memberi tekanan awal pada beton sehingga tegangan tarik yang terjadi pada konstruksi perkerasan beton tersebut bisa diimbangi oleh tegangan awal dan kekuatan tarik dari beton itu sendiri. Perkerasan beton dengan sistim pra cetak – pra tegang ini mempunyai beberapa keuntungan, seperti:

  1. Mutu beton akan lebih terkontrol, karena dicetak di pabrik
  2. Pelat beton menjadi lebih tipis, sehingga keperluan bahan akan lebih sedikit
  3. Retak yang terjadi bisa lebih kecil, karena ada tekanan dari baja yang ditegangkan
  4. Pelaksanaan di lapangan akan lebih cepat, dan pembukaan untuk lalu lintas pun akan lebih cepat pula.
  5. Gangguan terhadap lalu lintas, selama pelaksanaan di lapangan bisa diminimalkan karena pembangunan bisa lebih cepat.
  6. Kenyamanan pengguna jalan akan meningkat, karena sambungan antar pelat lebih panjang

Hal yang harus mendapat perhatian lebih lanjut adalah

  1. Diperlukannya ketelitian dalam pembentukan tanah dasar dan lapisan pondasi
  2. Diperlukannya ketelitian pada pembentukan pelat di pabrik     

Dari segi keamanan bagi pengguna jalan beton, diluar negeri telah dikembangkan pembuatan permukaan perkerasan yang lebih kesat dan kebisingannya lebih rendah, melalui permukaan perkerasan yang disebut expose aggregate. Begitu juga bahan beton yang bisa mengeras dengan lebih cepat yang digunakan untuk pemeliharaan jalan beton. Indonesia masih membutuhkan pengembangan teknologi ini lebih lanjut untuk mendukung pembangunan jalan yang lebih handal.

Teknologi Perkerasan Jalan Ramah Lingkungan 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *