Pemeriksaan Diameter Pengenal Tulangan

Untuk mengetahui diameter suatu tulangan perlu dilakukan pemeriksaan berdasarkan berat dan panjang benda uji. Kita tidak bisa mengetahui diamater suatu tulangan dengan cara mengukur diameter secara langsung karena sering ditemui besi tulangan yang ada di pasaran tidak homogen. Cara melakukan pemeriksaan diameter pengenal tulangan antara lain :

  1. Siapkan benda uji berupa besi tulangan polos dan besi tulangan deform (ulir)
  2. Siapkan alat yang digunakan yaitu timbangan, kaliper, gergaji potong besi
  3. Potong besi tulangan dengan ukuran kurang lebih sepanjang 1 meter
  4. Kemudian timbanglah benda uji besi tulangan polos dan besi tulangan deform. Kemudian catat berapa beratnya
Kriteria Benda Uji

Pemeriksaan SSD Pasir

Pasir merupakan bahan pengisi beton sehingga perlu diperiksa dengan menggunakan uji SSD. Dengan pemeriksaan SSD ini akan diperoleh pasir yang sesuai sebagai bahan campuran adukan beton, yang berhubungan dengan sedikit atau banyaknya air yang dikandung oleh pasir tersebut.

SSD atau Saturated Surface Dry adalah keadaan pada agregat dimana tidak terdapat air pada permukaannya tetapi pada rongganya terisi oleh air sehingga tidak mengakibatkan penambahan maupun pengurangan kadar air dalam beton.

Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui pasir uji termasuk dalam jenis SSD kering, basah atau ideal. Benda uji yang digunakan adalah pasir dengan diameter pasir yang diuji 0.15 mm – 5 mm. Sedangkan alat yang digunakan untuk pengujian yaitu :

Ukuran Bejana dan Ukuran Batuan yang diuji

Pemeriksaan Berat Satuan Agregat

Perbandingan antara berat dan volume pasir termasuk pori-pori antara butirannya disebut berat volume atau berat satuan. Tujuan dari pemeriksaan ini dimaksud untuk mengetahui cara mencari berat satuan pasir, kerikil, atau campuran.

Benda uji yang digunakan yaitu pasir atau kerikil kering tungku minimal sama dengan kapasitas bejana yang dipakai. Sedangkan alat yang digunakan antara lain :

  1. Timbangan dengan ketelitian maksimum 0.1% berat benda uji.
  2. Nampan besar.
  3. Tongkat pemadat dari baja tahan karat panjang 60 cm, diameter 15 mm dan     ujungnya bulat.
  4. Mistar perata.
  5. Bejana baja yang kaku, berbentuk silinder dengan ukuran seperti tabel dibawah ini

Pemeriksaan Kandungan Lumpur Dalam Pasir Cara Ayakan No 200

Pada postingan sebelumnya sudah dibahas tentang Pemeriksaan Kandungan Lumpur Dalam Pasir Cara Volume Endapan Ekivalen. Kali ini akan dibahas pemeriksaan kandungan lumpur dalam pasir dengan cara ayakan no 200.

Pasir adalah butiran-butiran mineral yang dapat lolos ayakan 4,8 mm dan tertinggal di atas ayakan 0,075 mm. Di dalam pasir juga masih terdapat kandungan-kandungan mineral yang lain seperti tanah dan silt. Pasir yang digunakan untuk bahan bangunan harus memenuhi syarat yang telah ditentukan di dalam (PUBI). Pasir yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan, jika kandungan lumpur di dalamnya tidak lebih dari 5%. Dengan cara endapan ekivalen kadar lumpur dalam pasir yang dinyatakan dalam (%) dapat diketahui secara tepat.

Contoh Hasil Pengujian1

Pemeriksaan Modulus Halus Kerikil

Pada postingan sebelumnya tentang Pemeriksaan Modulus Halus Pasir sudah dijelaskan bagaimana melakukan pemeriksaan tentang modulus halus pasir untuk mendapatkan gradasi pasir. Kali ini akan dijelaskan bagaimana melakukan pemeriksaan modulus halus kerikil.

Pemeriksaan modulus halus kerikil adalah salah satu cara untuk mengetahui nilai kehalusan atau kekasaran suatu agregat. Kehalusan atau kekasaran agregat dapat mempengaruhi kelecakan dari mortar beton, apabila agregat halus yang terdapat dalam mortar terlalu banyak akan menyebabkan lapisan tipis dari agregat halus dan semen akan naik ke atas.

Pemeriksaan Kandungan Lumpur Dalam Kerikil Cara Ayakan No 200

Pada postingan sebelumnya tentang Pemeriksaan Kandungan Lumpur Dalam Pasir Cara Volume Endapan Ekivalen, sudah dibahas bagaimana cara melakukan pengujian terhadap kandungan lumpur dalam pasir dengan cara volume endapan ekivalen. Seperti yang kita ketahui bahwa kandungan lumpur pada agregat kasar (kerikil) dan agregat halus (pasir) yang melebihi batas akan mempengaruhi kualitas campuran beton. Pada postingan kali ini akan dibahas bagaimana cara melakukan pemeriksaan kandungan lumpur pada kerikil.

Di dalam kerikil juga masih terdapat kandungan-kandungan mineral yang lain seperti tanah dan silt. Pasir yang digunakan untuk bahan bangunan harus memenuhi syarat yang telah ditentukan di dalam (PUBI). Kerikil dapat digunakan sebagai bahan bangunan, jika kandungan lumpur di dalamnya tidak lebih dari 5%. Dengan cara endapan ekivalen kadar lumpur dalam kerikil yang dinyatakan dalam (%) dapat diketahui secara tepat.

Contoh Hasil Pengujian

Pemeriksaan Modulus Halus Pasir

Pemeriksaan modulus halus pasir adalah cara untuk mengetahui nilai kehalusan atau kekasaran suatu agregat. Kehalusan atau kekasaran agregat dapat mempengaruhi kelecakan dari mortar beton, apabila agregat halus yang terdapat dalam mortar terlalu banyak akan menyebabkan lapisan tipis dari agregat halus dan semen akan naik ke atas.

Benda uji yang digunakan adalah pasir dengan berat minimum 500 gr. Sedangkan alat yang digunakan adalah sebagai berikut :

  1. Satu set ayakan  4.75 mm,2.36 mm, 1.18 mm, 0.6 mm, 0.3 mm, 0.15 mm dan sisa.
  2. Alat getar ayakan
  3. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram
  4. Kuas pembersih ayakan
  5. Cawan

Pemeriksaan Zat Organis Dalam Pasir

Pemeriksaan zat organis dalam pasir adalah cara untuk mengetahui adanya zat organis yang melekat pada pasir. Zat organis yang melekat pada pasir akan mempengaruhi mutu mortar atau beton yang dibuat. Warna gelap yang terjadi pada hasil pemeriksaan ini tidak dapat digunakan sebagai tolok ukur apakah pasir tersebut dapat digunakan dalam adukan atau tidak, karena warna gelap tersebut bisa berasal dari arang atau mangan yang terkandung dalam pasir tersebut.

Pada prinsipnya pemeriksaan ini dapat digunakan untuk menentukan apakah perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut atau tidak, misalnya untuk pemeriksaan keawetan dan kekuatan beton yang dibuat dengan menggunakan pasir ini.

Pemeriksaan Kandungan Lumpur Dalam Pasir Cara Volume Endapan Ekivalen

Pasir adalah endapan butiran-butiran mineral yang lolos ayakan 4.8 mm dan tertinggal di atas ayakan 0.075 mm. Di dalam pasir juga masih terdapat kandungan-kandungan mineral yang lain seperti tanah dan silt. Pasir yang digunakan untuk bahan bangunan harus memenuhi syarat yang telah ditentukan di dalam PUBI. Pasir yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan, jika kandungan lumpur di dalamnya tidak lebih dari 5%. Dengan cara ekivalen endapan lumpur dalam pasir yang dinyatakan dalam (%) dapat diketahui secara tepat.

Tujuan dilakukan pemeriksaan pasir dengan cara volume endapan ekivalen adalah untuk mengetahui besarnya kadar lumpur dalam pasir tersebut. Jika kadar lumpur dalam pasir melebihi batas 5%, maka pasir tersebut tidak dapat dipakai sebagai agregat halus dalam campuran beton.

Pengujian Berat Jenis dan Kadar Kayu

Pengujian berat jenis dan kadar air kayu merupakan hal yang penting untuk mengetahui kuat kelas kayu dan kondisi kayu apakah sudah kering udara atau belum. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui berat jenis dan kadar air kayu yang akan digunakan sebagai bahan bangunan dalam sebuah proyek.

Benda uji yang diperlukan berupa balok kayu dengan ukuran tampang  68,8mm x 38,8 mm x 22,2 mm. Sedangkan alat yang digunakan dalam pengujian antara lain :