Penyederhanaan Cara Perhitungan Struktur Bangunan Tahan Gempa

Dalam kenyataan, peraturan gempa modern makin lama makin kompleks dan makin sukar dimengerti maupun diimplementasikan. Hal ini tentunya tidak lepas dari kompleksnya masalah bangunan tahan gempa dan “misteri” dari peristiwa gempa itu sendiri. Banyak hal dan teori yang telah dapat dipelajari tentang peristiwa gempa, sehingga pengetahuan kita tentang kegempaan telah mengalami banyak kemajuan, nemun ternyata masih banyak pula hal-hal mengenai gempa, termasuk pengaruh gempa terhadap bangunan yang masih belum kita mengerti sepenuhnya. Keinginan kita untuk mengadopsi pengetahuan baru dari setiap peristiwa baru akibat gempa, menjadikan peraturan gempa menjadi semakin kompleks.

Perhitungan Gedung Tahan Gempa

Desain gedung tahan gempa diatur SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.14. Gedung dapat bertahan dari beban gempa yang bekerja bolak-balik bila dapat beriperilaku daktail yaitu terjadi lendutan plastis / pada keadaan leleh tapi tidak langsung runtuh dan terjadi selang yang cukup sampai terjadi runtuh. Dengan keadaan ini terjadi peredaman beban gempa. Hal ini berlawanan pada gedung berperilaku elastis karena beban gempa akan direspon seluruhnya menjadi lendutan dan gaya dalam yang besar. Kemampuan suatu gedung untuk berperilaku daktail disebut tingkat daktilitas (μ). Dan dapat didefinisikan sebagai rasio simpangan maksimum dengan simpangan pada waktu leleh (plastis) awal, dan dalam perencanaan dibagi menjadi :

Data Campuran Beton

Pengujian Bleeding

Keenceran suatu campuran (adukan) beton sangat mempengaruhi mudah dan sulitnya pengerjaan di lapangan. Apabila campuran tersebut terlalu encer, pengerjaannya semakin mudah namun kekuatan beton yang dihasilkan rendah, begitu juga sebaliknya.

Tujuan dari pengujian ini untuk mengetahui tingkat keenceran suatu campuran beton. Benda uji yang harus disiapkan berupa campuran beton segar yang dipakai dalam pembuatan silinder beton dan pengujian slam. Alat yang digunakan adalah pipet tetes dan tabung ukur 10 ml.

Pembuatan Silinder Beton

Pembuatan silinder beton adalah sebagai replikasi dari beton yang digunakan untuk bahan bangunan. Silinder beton ini terbuat dari adukan beton yang akan digunakan, yang merupakan sampel yang akan diujikan di laboratorium. Jumlah pembuatan silinder beton harus mempresentasikan dari adukan beton bahan bangunan.

Bahan yang dibutuhkan adalah campuran beton yang sudah di takar komposisi agregat kasar, agregat halus, semen, dan air. Sedangkan alat yang dibutuhkan antara lain :

  1. Cetakan silinder berukuran diameter 150 mm dan tinggi 300 mm, terbuat dari besi atau baja
  2. Alat penumbuk
  3. Cetok
  4. Tongkat perata
Abu Sekam sebagai Bahan Aditif pada Beton

Pemanfaatan Abu Sekam Sebagai Bahan Aditif Pada Beton

Beton merupakan campuran agregat kasar, agregat halus, semen dan air. Beton banyak digunakan dalam berbagai bidang konstruksi  misalnya gedung, jalan, waduk dan bendungan. Karena begitu luas peranan beton dalam bidang konstruksi, maka banyak pihak yang mencari beton berkualitas tinggi agar menghasilkan sebuah infrastruktur yang baik. Kualitas tinggi yang dimaksud pada campuran beton adalah yang memiliki kekuatan tekan, durabilitas dan workabilitasyang tinggi serta dengan harga yang seekonomis mungkin. Kekuatan, keawetan dan sifat beton tergantung pada bahan-bahan dasarnya (agregat kasar, agregat halus, semen dan air) yakni nilai perbandingan komposisinya, cara pengadukan maupun cara pengerjaan selama penuangan adukan beton, cara pemadatan dan cara perawatan (curing) selama proses pengerjaan.

Slab

Apa Yang Dimaksud Dengan Slab

Slab (pelat) adalah sebuah elemen struktur horizontal yang berfungsi menyalurkan beban mati maupun beban hidup menuju rangka pendukung vertical dari suatu sistem struktur. Elemen-elemen horizontal tersebut dapat dibuat bekerja dalam satu arah ataupun bekerja dua arah yang saling tegak lurus (biaksial).

Menurut sistem strukturnya, pelat dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu :

1. Pelat tipis lendutan kecil

Pelat lendutan kecil merupakan pelat dengan perbandingan tebal terhadap panjang sisi terpendek <= 1/20 (lebih kecil atau sama dengan) dan ukuran lendutan yang terjadi <= 0,20 tebal pelatnya.

Balok I atau Girder

Apa Yang Dimaksud Dengan Girder

Girder adalah sebuah balok diantara dua penyangga dapat berupa pier ataupun abutment pada suatu jembatan

Bahan Campuran Beton

Cara Pengadukan Beton

Mungkin sebagian besar tukang atau pelaksana bangunan selalu melakukan hal ini yaitu membuat campuran beton atau mengaduk campuran beton. Namun tidak ada salahnya kita menyimak uraian berikut ini. Dalam pembuatan campuran beton, harus dilakukan dengan benar. Karena jika salah dalam cara mengaduk bahan dasar beton, maka akan mengurangi kekuatan beton itu sendiri. Dalam uraian kali ini akan dijelaskan bagaimana cara membuat adukan beton agar sesuai dengan mutu beton yang diinginkan.

Data Hasil Pengujian

Pengujian Daya Ikat Semen Dengan Alat Uji Vikat

Daya ikat semen sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dalam sebuah adukan mortar maupun beton, karena adukan atau campuran yang dibuat harus sesegera mungkin dipakai supaya tidak lekas kering. Oleh karena itu penting sekali kita mengetahui berapa lama waktu pengikatan semen yang akan terjadi nantinya.

Pemeriksaan Berat Jenis Pasir

Pemeriksaan berat jenis dan SSD pasir merupakan hal yang penting untuk mengetahui pasir tersebut telah memenuhi syarat atau belum untuk bahan campuran adukan beton.

Tujuan dilakukan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui cara memeriksa berat jenis maupun SSD pasir. Benda uji yang digunakan adalah pasir kering tungku. Sedangkan alat yang digunakan yaitu :